DESAKAN DPRD Kota Makassar agar Pemkot Makassar mengawasi aksi organisasi kepemudaan dan mahasiswa dalam penggalangan dana bantuan untuk korban gempa bumi di Sumatera Barat (Sumbar) mendapat respons Dinas Sosial (Dinsos) Kota Makassar. Dinsos meminta mahasiswa menghentikan penggalangan sumbangan sebelum mendapat izin dari Pemkot.

Kepala Dinas Sosial Kota Makassar, Ibrahim Saleh mengatakan, dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1964 menyebutkan penggalangan dana untuk korban bencana alam harus mendapatkan izin dari pemerintah setempat. Sementara, katanya, aksi solidaritas yang dilakukan mahasiswa tak mengantongi izin dari Pemkot Makassar.
"Inilah yang menjadi masalah, makanya kami sudah meminta mahasiswa untuk menghentikan penggalangan dana yang mereka lakukan," kata Ibrahim saat dikonfirmasi, Jumat (9/10).
Ibrahim juga menghimbau masyarakat agar tidak menyalurkan bantuan melalui organisasi kepemudaan maupun mahasiswa. Bukan hanya persoalan tidak adanya izin, penyaluran dana ke korban bencana dikhawatirkan tidak tepat sasaran. Kekhawatiran itu erat kaitannya dengan koordinasi maupun link atau hubungan mahasiswa dengan para korban di lokasi bencana alam yang dinilai tak jelas.
"Kalau masyarakat ingin menyalurkan bantuan, lebih baik pada institusi yang sudah jelas," imbau Ibrahim.
Ibrahim mengaku telah berkoordinasi dengan Satpol PP untuk menertibkan aksi penggalangan dana tersebut. Ia juga telah melakukan pendekatan persuasif kepada mahasiswa dan organisasi kepemudaan agar kebijakan tersebut terealisasi dengan baik. "Pekan depan kami akan turunkan SE (Surat Edaran) ke organisasi kepemudaan dan mahasiswa," terangnya.
Ibrahim berharap agar penegakan UU dengan lahirnya kebijakan ini disambut positif mahasiswa maupun organisasi kepemudaan. Tidak ada niat Pemkot, lanjut dia, untuk tidak solider terhadap aksi solidaritas dalam membantu sesama umat. "Penggalangan dana itu tindakan positif, tapi sebaiknya melalui prosedur yang sudah ditetapkan," tegasnya.

"Kebijakan Tak Masuk Akal"

Kebijakan Dinsos Kota Makassar yang melarang penggalangan dana di jalan mengundang reaksi mahasiswa. Menurut mahasiswa, kebijakan ini sama saja menghalangi orang untuk berbuat amal.

Ilham Rajab misalnya. Akitivis dari Universitas 45 ini mengutuk kebijakan larangan menggalang dukungan di jalan yang dilakukan mahasiswa hampir di seluruh kampus di Makassar.
Ilham menilai, langkah para mahasiswa untuk menggalang dana hingga ke ruas jalan atas dasar solidaritas terhadap sesama warga Indonesia yang dilanda musibah. Pemkot, lanjut Ilham seharusnya mendukung aksi tersebut.
"Kami meminta agar kebijakan itu dirasionalkan, ini jangan ditanggapi secara picik," tegas Ilham yang tak lain juga menjabat Ketua DPP Ikatan Senat Mahasiswa Hukum Indonesia (ISMAHI) ini.
Ia menampik pernyataan Kepala Dinsos Kota Makassar Ibrahim Saleh yang menyebutkan bahwa bantuan dari mahasiswa dikhawatirkan tidak tepat sasaran. Mahasiswa, kata dia, memiliki lembaga khusus yang sudah terpercaya dalam penyaluran bantuan sosial.
"Kami akan menemui Kadinsos mempertanyakan pelarangan ini. Kebijakan ini tak masuk akal, kalau sampai tidak masuk akal, jangan salahkan kami," ungkapnya. (BKM)
foto : http://www.antarasumut.com/wp-content/uploads/2009/01/sumbangan.jpg


GUBERNUR Sulsel, Syahrul Yasin Limpo menginstruksikan kepada bupati/walikota di Sulsel untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana alam. Kendati Sulsel masih dalam kategori aman, Syahrul tidak ingin pemerintah lengah.

"Bencana alam tidak bisa diduga, makanya harus ada kesiapan," kata Syahrul di Rumah Jabatan Gubernur Sulsel, kemarin.
Syahrul meminta bupati dan walikota harus memonitoring wilayah-wilayah yang masuk dalam kategori rawan bencana. Seluruh perangkat pemerintahan mulai dari camat sampai kepala desa dioptimalkan kinerjanya untuk tanggap bencana alam.
"Untuk Sulsel, hal yang berbahaya adalah angin kencang, banjir dan tanah longsor. Makanya camat, lurah dan kepala desa harus dibekali pengetahuan tentang bencana alam," ujar Syahrul.
Ia juga siap berkoordinasi Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika Wilayah IV Sulawesi, Maluku Papua untuk mengadakan simulasi bencana alam. Hal itu penting, kata Syahrul, untuk mengantisipasi dan meminimalisir jumlah korban apabila terjadi bencana.
Selain itu, Syahrul juga mengaku prihatin terhadap bencana gempa di Sumatra Barat, olehnya itu pihaknya akan menyalurkan bantuan. "Saya akan menelepon Gubernur Sumbar untuk mengetahui apa yang dibutuhkan di sana. Kami tidak ingin seperti membuang garam di laut," tandasnya.
Sementara itu, Anggota DPRD Makassar ramai-ramai menyalurkan bantuan ke korban bencana Sumbar. Misalnya legislator dari Fraksi PKS yang menyumbangkan Rp 25 juta untuk korban gempa.
Ketua Fraksi PKS, Asriady Samad mengatakan, pihaknya mengumpulkan dana Rp 5 juta per orang untuk korban gempa. FPKS juga akan segera terbang ke Sumbar untuk menyalurkan bantuan. (bkm)
foto : http://www.prcs.org.pk/Pakistan%20Red%20Crescent%20Society_files/disaster1.jpg




Krisis listrik yang mengakibatkan pemadaman bergilir memaksa PLN Sultanbatara untuk mengambil langkah tegas. Mulai sekarang, seluruh pelanggan yang menyedot daya tinggi dilarang menggunakan listrik, salah satunya sarana hiburan terbesar di Asia Tenggara Trans Studio.

Juru bicara PT PLN (Persero) Wilayah Sulsel, Sultra, dan Sulbar, Edy Thamrin mengatakan, tidak beroperasinya listrik untuk Trans Studio dan beberapa pelanggan besar PLN di Makassar sangat membantu meminimalisir krisis listrik. Bila mereka tidak menggunakan listrik, energi yang bisa dihemat mencapai 45 Mega Watt (MW). "Jadi kami tekankan agar semua pelanggan besar kami untuk sementara menggunakan genset masing-masing termasuk Trans Studio," kata Edi Tamrin saat dikonfirmasi, kemarin.

Namun demikian, Edy Thamrin menampik pelarangan menggunakan listrik pada Trans Studio karena pusat hiburan yang berada di Tanjung Bunga ini memicu krisis listrik. Krisis listrik, kata Edi, terjadi karena sejumlah mesin pembangkit listrik mengalami kerusakan.
"PLN juga berkoordinasi ke Pemkot Makassar agar pengoperasian lampu jalan diminimalisir. Saat beban puncak, lampu jalan dimatikan," terangnya.
Parahnya pemadaman bergilir, lanjut Edi, terjadi karena beberapa mesin pembangkit listrik rusak dalam waktu yang hampir bersamaan. Misalnya kerusakan satu unit mesin listrik PT Energi Sengkang yang mengakibatkan hilangnya energi hingga 60 MW, kerusakan satu mesin PLTA Suppa dengan energi 1O MW dan kerusakan mesin di PLTU Tallo berkapasitas 16 MW.
"Devisit daya yang membengkak membuat pemadaman bergilir tidak bisa dihindari. Kalau saja tidak dilakukan, maka bisa terjadi pemadaman total," ujar Edy.
Edy mengatakan, PLN telah berupaya maksimal untuk melakukan perbaikan dan diharapkan bisa selesai secapatnya. Sejauh ini kondisi PLTA Suppa dinyatakan sudah normal, namun PLTG Sengkang dan PLTU Tallo masih dalam perbaikan.
Sembari dalam perbaikan, PLN juga mengeluarkan kebijakan agar seluruh mesin pembangkit listrik yang ada dioptimalkan, tak terkecuali mesin yang masuk dalam kategori rongsokan. "Ini perintah langsung GM (General Manager)," ungkapnya.
Selain itu, PLN juga merencanakan membuat hujan buatan di PLTA Bakaru untuk mengantisipasi kekeringan bendungan. Minggu ketiga Oktober, hujan buatan sudah dilakukan.
Edy menambahkan, penyewaan mesin pembangkit listrik terus dipayakan, mesin berkapasitas 20 MW tengah proses pemasangan di PLTU Tallo yang diperkirakan selesai Desember 2009. Kemudian di awal 2010, mesin berkapasitas 50 MW juga dipasang.
"Kami meminta maaf kepada masyarakat atas terjadinya pemadaman bergilir. Kami juga meminta kerjasamanya untuk menghemat listrik," tandasnya. (bkm)
ket foto : https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg37Fh64Loeb9OAG6blNEV8buRm3ERqb18FlnBNTtX4YBhqnw9EuvZStbwtlZ899fwzZdLw8NHQkCQsK6NLWB6nwFTKhL-iIPU2ElKwheg0yiBwnOP_cV7AVUwFq-dZn2W37uAluO7iAaU/s400/Trans+Studio+Makassar.jpg
Setelah Laptop, Difasilitasi Telpon

SELAIN mendapat laptop, 50 ruangan anggota DPRD di lantai II akan dilengkapi dengan satu unit pesawat telepon. Ini dilakukan untuk mempermudah komunikasi antarsesama anggota dewan.

Ketua sementara DPRD Kota Makassar, Yusuf Gunco mengatakan, pengadaan telepon di setiap ruangan sangat dibutuhkan untuk menunjang kinerja legislator.
"Staf yang ada kan cuma di komisi, sementara di ruangan lainnya tidak ada," kata Yusuf Gunco di DPRD Kota Makassar, kemarin.
Yugo mengatakan, sekretariat menganggarkan Rp 39 juta untuk melengkapi alat komunikasi tersebut. Sebanyak 69 termasuk ruang pribadi, ruang fraksi dan ruangan lain telah dipasangi telepon, tinggal menunggu teknisi untuk mengaktifkan jaringannya.
"Masing-masing ruangan memiliki nomor telepon, jadi tinggal dihubungi kalau ada kegiatan," terangnya.
Sebelumnya, sekretariat DPRD Kota Makassar juga menganggarkan sekitar 50 unit komputer jinjing untuk legislator. Komputer jinjing yang dihargai berkisar Rp 20 juta perunit itu menguras anggaran mencapai Rp 1,5 miliar. (bkm)
ket foto : http://rhodesyup1.files.wordpress.com/2009/08/geert-wilderz1.jpg

Pengalaman Mudik ke Kampung Halaman (2-habis)

Operator Terminal Regional Daya (TRD) mengumumkan jadwal keberangkatan. Suara TV yang tak jelas dan rayuan pedagang kaki lima begitu gaduh di telinga.

Laporan : Trie Suharman

"BUS tujuan Majene sudah berada di Jalur Pemberangkatan. Diminta para penumpang segera bersiap-siap," kata operator bersuara serak itu.
Akupun menoleh ke kiri, hampir seluruh bangku di ruang tunggu terisi penumpang. Pandangan mereka mengarah ke utara, memperhatikan bus yang berjejer di jalur pemberangkatan.
Kumelirik jam di ponsel yang menunjukkan 19.40, sebentar lagi aku melesat ke kampung halaman.
Aku terdiam sejenak. Kembali ku menoleh ke kiri, memandangi aktivitas penumpang yang beragam. Sepertinya ada yang berbeda.
Saat mudik lebaran tahun lalu, seluruh bangku terisi penumpang. Tak satupun yang kosong. Bahkan sebagian penumpang memilih berdiri karena tak kebagian kursi.
Tahun lalu, tumpukan barang terasa sesak di ruang tunggu. Namun tahun ini, seperti bisa dihitung jari.
Kemudian aku menoleh lagi ke belakang, para tim medis yang disiapkan untuk mengecek kondisi supir dan penumpang hanya duduk termenung dalam posko kesehatan. Sebagian asyik bercerita dan sebagian asyik menikati cemilan. Tahun lalu, betapa sibuknya mereka.
"Sekali lagi bus tujuan Majene sudah siap berangkat. Penumpang diharapkan menuju ke Jalur Pemberangkatan," kata operator mengingatkan.
Aku tersentak. Dengan tergesa-gesa kuraih kardus berisi paket lebaran untuk orang tua, kemudian berlari kecil ke jalur pemberangkatan.
"Cepat-cepat," seru kondektur bus kepadaku. Dengan nafas tersengal-sengal, akupun tiba di pintu bus itu. Kardus berisi paket lebaran langsung kuserahkan ke kondektur supaya disimpan di bagasi.
Sesuai nomor urut tiket bus, aku berada di kursi paling belakang. Kupandangi ke sekelilingku. Disamping kiri seorang pemuda tambun, disamping kanan seorang wanita setengah baya. Keduanya sibuk memainkan ponselnya.
Sementara di jejeran kursi penumpang yang berada di depanku, puluhan kepala menyembul melewati sandaran kursi. Sepertinya, tak satupun kursi yang kosong.
Namun lagi-lagi ada yang berbeda. Mudik beberapa tahun terakhir, puluhan orang rela berdiri di lorong tengah, diantara kursi bus. Padahal, harga tiket bus yang dibayar tidak berbeda dengan yang duduk asyik di kursi. Itulah sebabnya saya membeli tiket jauh hari sebelumnya.
Kali ini, tradisi itu sudah tidak kutemukan. Para penumpang bersandar dengan nyaman.
Tak lama berselang, puluhan pedagang kaki lima menaiki bus. Menawarkan beragam jajanan untuk mudik seperti apel, beragam jenis minuman sampai majalah remaja. "Apelnya tawwa, apelnya tawwa," kata seorang pedagang yang masih berusia belia.
Mereka pun turun dari bus, seiring suara mesin bus yang mengawali perjalanan panjang ke kampung halaman. Aku bersandar dan menghela nafas, sepinya penumpang membuatku lebih tenang.
Tak lagi ada keresahan pada kapasitas kendaraan, tak lagi kelelahan karena sesak dengan pemudik lainnya. Dalam angan harapan keselamatan ke kampung halaman cukup besar, meski sesekali tersentak goyangan bus yang tersandung lubang jalanan. (*)
ket foto : http://hagemman.files.wordpress.com/2009/09/mudik-kultural-01.jpg
Pengalaman Mudik ke Kampung Halaman(1)

Mentari meredup, pertanda sang malam menjemput. Disisi barat Kota Makassar langit memerah, mengukir pamit untuk bulan yang suci.

Laporan : Trie Suharman

AKUPUN bergegas pulang, setelah bergemul tumpukan kewajiban di kantor sore itu, Jumat (18/9). Dalam hati, kekhawatiran tingginya arus mudik di Terminal Regional Daya (TRD) membuat waktu begitu berharga.
Untung ada sedikit ketenangan karena tiket bus jurusan ke kampung halaman sudah kupesan sejak sepekan lalu. Akupun melesat ke rumah bersama motor bututku.
Setiba di rumah, si butut ku simpan di garasi. Kemudian merapikan beberapa lembar pakaian kedalam tas. Tak lupa merapikan paket lebaran untuk keluarga yang kukemas kedalam kardus mi instant sejak beberapa hari lalu.
Kendati tiket bus menyebutkan waktu keberangkatan pukul 20.00, tapi aku harus berada di TRD sejak pukul 17.00. Maklum, rasa takut ketinggalan bus sangat tinggi.
Dengan menggunakan ojek, aku menembus kemacetan ke TRD. Dari kejauhan, samar para calo penumpang dan kuli barang begitu sibuk mengejar penumpang. Berdesakan menawarkan jasa demi kepulan asap di rumah.
Kepada tukang ojek, aku meminta agar berbelok kearah jalan berlawanan. Melanggar peraturan lalulintas di TRD, untuk mengelabui aksi mereka yang membawa kekhawatiran. Namun, tetap saja tak lolos.
"Mau kemana," tanya seorang calo sedikit ngos-ngosan. Aku tersenyum. Belum sempat kujawab, kardus berisi paket lebaran sudah dipikul seorang kuli.
Sambil membayar ongkos ojek aku menjawab "Maaf-maaf, nanti saya bawa sendiri. Saya juga sudah pesan tiket," kataku sedikit dongkol.
Kuli itu tak menghiraukan, begitupun calo yang terus saja mendesak dengan tumpukan tiketnya. Kuhelai nafas, menepis serangan emosi yang mulai menguat.
Kepada sang calo, aku menggelengkan kepala. Untunglah dia mengerti dan berlalu, namun si kuli tak juga melepas kardus yang sudah menindih pundaknya.
Kutatap sang kuli bertubuh dekil itu.Wajahnya yang keras, ototnya bagai kawat bercampur peluh dan kenekatannya demi sesuap nasi melahirkan rasa ibaku. Begitu sulitnya mengais rejeki di metropolitan ini.
Teringat pernyataan Kepala Perusahaan Daerah Terminal Abidin Wahid saat kuwawancarai tempo hari. Menurutnya, keberadaan calo dan kuli sudah menjadi kultur terminal di Makassar.
Meski penumpang mengeluhkan mereka, tapi sulit untuk diberanguskan. Jalan yang terbaik, kata Abidin, adalah memberdayakannya. "Laporkan ke pos pengaduan kalau mereka bertingkah, langsung ditindaki," tegas Abidin waktu itu.
Walaupun menurutku sudah dalam kategori bertingkah, aku tetap membiarkannya memikul barang kedalam TRD. Setibanya di ruang tunggu, aku langsung membayar seperti kesepakatan sebelumnya. "Terimakasih banyak," ungkap pria itu tersenyum kecil.
Uang yang kuberi langsung ia cium dan dimasukan ke saku celana yang berdebu. Kemudian ia melangkah gontai ke arah gerbang TRD. Dari kejauhan, wajahnya yang keras menyiratkan kebahagiaan.
Aku termenung Di bangku sebelah kanan ruang tunggu. Masih terbawa fikiran dengan aksi kuli tadi. Entah kenapa aku bangga dengan mereka. Siang dan malam bekerja memikul barang dan tanggungjawab untuk keluarga. Bertahan dalam kesulitan ekonomi dan kerasnya hidup.
Bising operator TRD mengumumkan jadwal keberangkatan, suara TV yang tak jelas dan rayuan pedagang kaki lima begitu gaduh di telinga.
Akupun menoleh ke kiri, hampir seluruh bangku terisi penumpang. Pandangan mereka mengarah ke utara, memperhatikan bus yang berjejer di jalur pemberangkatan.(*)
ket foto : http://kissmeguntur.files.wordpress.com/2009/09/mudik3a.jpg
MENJALANKAN ibadah puasa adalah sebuah kewajiban bagi umat muslim, namun jika ditilik dari sisi kesehatan dibalik nilai ibadah dari ritus yang dijalankan sebulan penuh tiap tahun ini, juga tersimpan banyak manfaat. Tapi tentu saja jika itu dijalankan dengan aturan yang benar dan tidak asal-asalan. Bagaimana memadukan antara ibadah dan mendapatkan manfaat bagi kesehatan kita, berikut kami suguhkan 6 tips menjalankan puasa sehat:

1. Jangan Tinggalkan Sahur

Sahur merupakan salah satu rangkaian dalam ibadah puasa Ramadhan yang sangat disarankan, dalam sebuah Hadist disebutkan bahwa "Bersabda Rasulullah SAW: "Sahurlah kamu, karena dalam sahur itu terdapat berkah yang besar". Kenapa sahur penting bagi kita yang menjalankan puasa?, Saat menjalankan puasa tubuh kita tidak mendapatkan asupan gizi kurang lebih selama 14 jam. Untuk itu supaya tubuh dapat menjalankan fungsi dengan baik, sel-sel tubuh membutuhkan gizi dan energi dalam jumlah cukup. Untuk menu sahur sebaiknya pilih makanan berserat dan berprotein tinggi, tapi hindari terlalu banyak mengkonsumsi makanan yang manis-manis.

Banyak makan makanan manis disaat sahur akan membuat Anda cepat lapar di siang hari. Makanan manis membuat tubuh bereaksi melepaskan insulin secara cepat, insulin berfungsi memasukkan gula dari dalam darah ke dalam sel-sel tubuh dan digunakan sebagai sumber energi. Sedangkan makan makanan berserat membuat proses pencernaan lebih lambat dan membantu insulin dikeluarkan secara bertahap. Untuk membuat energi dari sahur tahan lama, bersahurlah lebih akhir saat mendekati imsak.

2. Jangan Tunda Berbuka

Setelah seharian menahan lapar dan dahaga tentunya energi kita terkuras, untuk memulihkan energi kembali, saat berbuka makanlah karbohidrat sederhana yang terdapat dalam makanan manis. Makanan yang mengandung gula mengembalikan secara instant energi kita yang terkuras seharian. Tetapi usahakan menghindari minum es atau yang bersoda, karena jenis minuman ini dapat membuat pencernaan tak berfungsi secara normal.

3. Makanlah Secara Bertahap

Biasanya begitu mendengar bedug magrib, tanpa tunggu lagi kita langsung menyantap habis hidangan yang disediakan diatas meja. Ini bukanlah pola yang bagus untuk kesehatan, setelah seharian perut kita tak terisi dan organ cerna beristirahat, sebaiknya jangan langsung menyantap hidangan dalam jumlah besar. Saat tiba waktu berbuka makan makanan manis, seperti kolak, atau minum teh hangat, istirahatkan sesaat, bisa Anda gunakan jeda itu untuk menjalankan sholat magrib sambil memberi waktu organ cerna kita menyesuaikan. Baru setelah sholat Anda dapat lanjutkan kembali makan makanan yang lebih berat seperti nasi dan lauk-pauknya. Dan setelah Tarawih dilanjutkan lagi dengan sesi makan kecil atau camilan.

4. Jangan Tinggalkan Olahraga

Menjalankan puasa bukan berarti berhenti total berolahraga. Justru aktivitas fisik tetap dibutuhkan untuk menjaga kelancaran peredaran darah agar kita tidak mudah loyo. Namun untuk urusan ini pilih olahraga ringan yang tak membutuhkan energi berlebih, seperti lari-lari kecil atau jalan kaki. Sebaiknya lakukan olahraga menjelang waktu berbuka. Tarawih selain ibadah juga sebagai sarana menjaga kebugaran
jasmani karena saat melakukan sholat tarawih sama dengan membakar kalori.

5. Konsumsi Cukup Air

Air merupakan zat yang sangat dibutuhkan tubuh. Lebih dari 60 % tubuh kita terdiri dari air. Untuk menjalankan fungsinya dengan baik setiap organ tubuh kita membutuhkan air. Tanpa air yang cukup tubuh akan mengalami gangguan. Untuk itu perbanyak minum air untuk simpanan dalam tubuh supaya semua organ berfungsi dengan baik. Yang disebut air disini bukan hanya berupa air putih, tapi susu dan teh pun juga termasuk di dalamnya. Supaya kebutuhan tubuh tercukupi, aturlah agar Anda minum delapan gelas air sebelum menjalani puasa esok hari.

6. Kendalikan Emosi

Rasulallah bersabda bahwa puasa itu bukan hanya menahan lapar dan dahaga tetapi juga menahan nafsu. Dengan kata lain tujuan puasa adalah me-manage emosi, belajar bersabar dan berupaya mendekatkan diri kepada Tuhan. Secara psikologis ini mempengaruhi mental-spiritual kita, dengan mengendalian emosi membuat jiwa kita
tumbuh lebih sehat, dan merasakan kedekatan dengan Allah membuat hati kita damai.(kapanlagi.com)